Cara pacaran menurut Islam_Agama Islam yang dibawa Rasulullah SAW melalui perantara malaikat Jibril di gua Hira membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi para pengikut-pengikutnya. Dimana mereka berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an. Dalam kitab suci yang telah disempurnakan dari kitab-kitab suci sebelumnya oleh Allah SWT ini, Al-Qur’an mengatur sedemikian rupa kehidupan manusia mulai dari tauhid hingga kehidupan sosial.
Cara Pacaran Menurut Islam
Gambar oleh Pexels dari Pixabay 

Kehidupan sosial ini termasuk mengatur kepemimpinan, politik, perdagangan hingga rumah tangga. Salah satu kajian menarik adalah mengenai akad dan pernikahan yang dijadikan para muslim dan muslimah sejati untuk mengikuti tata cara pernikahan sesuai perintah Allah SWT dan ajaran Rasulullah SAW dari akad, resepsi hingga berlangsungnya rumah tangga dan dalam mendidik anak atas nama Allah SWT.

Allah SWT juga telah menciptakan manusia secara berpasangan yang dengan ridha Nya akan dipertemukan pasangan tersebut ke meja pelaminan dan akan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah.

Wanita, sebagaimana kisah Nabi Adam dan Hawa, tercipta dari tulang rusuk pasangan prianya yang dengan itu dapat disebut sebagai takdir atas ikatan atau belahan jiwa.

Bukan lagi menjadi fakta yang mengejutkan bahwa jodoh seseorang dapat dilihat dari wajah yang dibenarkan banyak orang bahwa pasangan sehidup semati sedikit banyak memiliki kesamaan fisik selain dari segi psikis.

Sebelum pasangan tersebut sampai pada pelaminan, istilah dalam kamus modern Indonesia adalah tahap PDKT atau pendekatan.

Melalui PDKT akan terlihat cocok atau tidaknya pasangan tersebut. Dari PDKT bukan hal yang biasa lagi bahwa semua pasangan akan melalui tahap pacaran baik itu seumur biji jagung mau pun seumur kura-kura yang tidak kunjung dibawa pada pelaminan.

Di Indonesia, tidaklah keren apabila seseorang belum pernah merasakan pacaran dimana merupakan proses keterikatan tidak sah yang didasarkan pada dua sejoli yang saling dimabuk cinta hingga tercipta rasa saling memilki yang apabila salah satunya berkhianat akan muncul istilah ‘putus’ sebagai kata lain dari talak dalam pernikahan.

Hal-hal yang dilakukan pasangan yang berpacaran adalah biasanya saling berbagi cerita bersama, menonton film, makan bersama hingga saling memperkenalkan pasangan pada sanak saudara apabila tahap pacaran tersebut telah matang dan akan menuju tahap yang lebih serius yaitu pernikahan.

Banyak orang menganggap bahwa pacaran merupakan salah satu proses menuju tingkat yang lebih serius dimana sebelum itu memerlukan penelitian lebih dekat mengenai apakah sang pasangan benar-benar sesuai apa yang ia harapkan dan pantas untuk diajak menghabiskan masa muda sampai tua bahkan sampai akhir hayat.

Pacaran juga dinilai banyak pelaku menguntungkan terutama bagi kaum wanita yang dianggap dapat melindungi dirinya dari kejahilan maupun kenakalan orang lain dimana wanita tersebut akan cenderung risih. Apabila memiliki kekasih, tingkat orang yang akan mengganggu wanita tersebut akan berkurang karena adanya rasa takut dan rikuh.

Syari’at islam: pacaran tidak diperbolehkan
Semua yang memperlajari agama islam, menjadikan Al Qur’an sebagai kitab suci pedoman hidup, taat pada perintah Allah SWT dan Rasul Nya pasti mengetahui bahwa ajaran islam tidak menghendaki adanya pacaran. Bagi orang yang beriman dan bertaqwa tentunya tidak memprotes atau pun kecewa atas larangan tersebut yang memang tertulis bahwa mendekati zina saja sudah berdosa apalagi berbuat.

Mendekati zina di sini termasuk dalam artian pacaran. Meskipun sebagian orang Islam yang mengaku berpacaran bahwasannya pacaran yang mereka lakukan tidak disertai saling menyentuh namun hal itu sama saja.

Dengan menatap lawan jenis, rayuan dari mulut hingga menghirup aroma parfum lawan jenis juga dapat merangsang dosa karena dari hal-hal sepele itulah yang dapat menuntun seseorang berbuat maksiat yang awalnya hanya diniati sebagai tatapan menggoda biasa.

Kita dapat melihat bagaimana orang yang tidak setia pada agama mereka atau tidak memiliki agama sama sekali bertindak. Contoh saja di negara-negara Barat dengan kehidupan Bohemian dan free sex dimana mereka menjadikan kebiasaan tersebut sebagai suatu kesenangan yang oleh norma Melayu dan kepercayaan berbagai agama di Indonesia jelas menentangnya.

Free sex juga di awali dari zina yang masih pada tahap pendekatan seperti tatapan mata hingga rayuan memanja dari lawan jenis yang jelas menuntun mereka untuk lanjut pada tahap berikutnya. Akibat dari perbuatan maksiat tersebut, banyak pasangan yang bahkan tidak sampai pada pelaminan.

Kasus free sex juga membawa pada berbagai kasus banyaknya anak yang lahir di luar pernikahan dan oleh karena orang tua mereka tidak peduli sang calon bayi biasa langsung digugurkan seperti dalam kampanye aborsi di negara-negara Barat, #shedecides dan tentu akan melipat gandakan dosa.

Selain haram dalam hukum islam, pacaran juga justru membuat pasangan akan lebih mudah jenuh dan akhirnya mengakhiri hubungan yang sia-sia bahkan meskipun sudah menikah kemungkinan tuntutan untuk bercerai akan lebih cepat terjadi.

Ironisnya, seseorang yang berusaha mensucikan diri dengan menghindari hal-hal yang berbau maksiat seperti pacaran justru mendapat cacian bahwa orang tersebut terlalu aneh atau bahkan tidak laku sehingga tidak ada satu pun yang mau mendampinginya.

Allah telah secara terang berfirman yang disampaikan Rasulullah bahwa setiap manusia pasti memiliki pasangan.

Oleh karena itu, tidaklah perlu merasa khawatir akan hidup naas yang berakhir menjadi seorang diri kecuali memang itu pilihan dia untuk tidak dapat menjaga rumah tangga yang diamanahkan Allah SWT atau karena keegoisan dan kegensiannya tidak mau menerima orang lain dalam hatinya.

Tidak ada jaminan bahwa orang yang anda pacari atau kekasih anda merupakan jodoh masa depan.
Bahkan tidak selamanya pacaran dapat mengungkap identitas asli sang pasangan karena mungkin ada niat buruk dibalik itu meskipun pada wanita sebutan ‘matre’ sangat sensitif karena pada umumnya setiap orang memang membutuhkan uang untuk bertahan hidup terlebih lagi wanita yang juga memikirkan masa depan anaknya.

Untuk itu islam bahkan meminta apabila memang terjalin rasa saling suka dan percaya maka lebih baik jika ta’aruf atau perizinan pada keluarga mempelai wanita segera dilakukan demi menghindari zina.

Ketika keluarga berhasil dibangun, islam bahkan mewajibkan kaum pria untuk bekerja keras sebagai tanggung jawabnya yang telah meminang anak seseorang dengan memberinya makan hingga barang.

Dalam hal ini jelas bahwa hukum pacaran haram karena tidak sesuai dengan syari’at islam dimana langsung menikah merupakan satu-satunya jalan demi menghindari maksiat dimana Allah memastikan bahwa pasangan tersebut serasi apabila keduanya mendekatkan diri pada Allah dan melakukan segala sesuatu hanya untukNya.

Pacaran usai menikah justru yang direkomendasikan oleh Islam, berikut caranya:

1. Memberi jarak
Memberi jarak di sini bukan berarti memisahkan diri dari pasangan namun memberi waktu untuk memiliki momongan dengan menikmati dunia untuk berdua setelah proses pernikahan disahkan secara agama, negara, dan keluarga sehingga pacaran disini bersifat halal.

2. Di waktu senggang
Pacaran di waktu senggang termasuk salah satu kewajiban terutama bagi sang istri dalam menjawab panggilan sang suami di ranjang. Pacaran di waktu senggang dapat dilakukan kapan pun asalkan urusan ibadah dan kepentingan lain telah dilaksanakan.

Pacaran dalam islam merupakan  sesuatu yang haram karena telah melanggar syari’at yang ditetapkan Allah SWT yaitu mendekati bahkan berbuat zina sebelum keduanya terikat dalam janji suci pernikahan. Pacaran yang disahkan dalam islam yaitu setelah keduanya menikah secara sah.